Dinas Peternakan Tuban Ingatkan Peternak Potensi Penyakit Pada Sapi

Written by Tubagus Diday/wd. Posted in Pantura

TUBAN-Bagi peternak dan pemilihara hewan khususnya sapi, perlu mewaspadai beberapa penyakit yang bisa menyerang hewan ternak. Terlebih ditengah kondisi alam dan cuaca yang saat ini sudah tidak menentu, sehingga potensi serangan penyakit pada hewan ternak semakin tinggi. Karena itu, Dinas Peternakan Tuban mengingatkan petenak terhadap sejumlah penyakit yang berpotensi menyerang hewan ternak.

Jenis penyakit yang mengancam ternak seperti sapi dibagi beberapa kategori, diantaranya paling berbahaya hingga yang paling ringan. Penyakit paling berbahaya dan bisa mengancam kematian sapi biasanya jenis antrak atau dikenal dengan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menular ke manusia (zoonese artinya dari hewan menular ke manusia-red).

Kabid Peternakan,  Dinas Peternakan Kabupaten Tuban, Drh. Pipin Diah Larasati menjelaskan, penyakit berbahaya lainnya, seperti Bruselusis yaitu penyakit yang juga disebabkan karena bakteri. Namun jenis penyakit bruselusis biasanya lebih mengancam ke hewan jenis sapi perah dan sapi potong. Sedangkan untuk ciri-cirinya sapi yang terserang jenis penyakit itu biasanya ketika bunting keguguran. Selain itu, juga gampang menular meskipun itu lewat air susunya.

“Alhamdulillah di Tuban tidak ada jenis penyakit seperti itu. Namun kita tetap waspada, karena Tuban daerah perbatasan,” ujar perempuan berkerudung itu kepada kanal jatim, Kamis (30/10/2014).

Dokter hewan ini juga mengungkapkan, biasanya penyakit sapi yang kerap terjadi di Tuban yaitu cacingan dan kulit mengelupas. Ada pula jenis penyakit lain, tapi sebenarnya tidak penyakit yaitu flu burung. Karena flu itu berasal dari virus yang sedang bermutasi menjadi gen, jadi tak berbahaya bagi manusia.

Selain itu, penyakit kembung juga kerap menimpa sapi-sapi di Tuban. Meski jenis penyakit yang satu ini tergolong ringan. Namun jika tidak ditangani mulai dari perawatan hingga pola makannya, maka bisa mengakibatkan kondisi sapi menjadi tidak sehat dan kurus.

“Biasanya jenis penyakit yang menyerang sapi di Tuban itu bukan virus, tapi cacing,” sambung alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Unair tersebut.

Pipin membeberkan, bagaimana menyelamatkan sapi yang sedang terserang penyakit tersebut. Diantaranya dengan pencegahan dan pengendalian penyakit yang menyerang hewan itu. Selain itu, melakukan optimalisasi terhadap kesehatan hewan dengan cara memeriksa hewan di laboratorium kesehatan hewan.

“Biasanya pencegahan itu kami lakukan dengan cara perawatan dan pengambilan sampel veses atau BAB nya untuk diperiksakan di lab milik provinsi Jawa Timur yang ada di Tuban, dan ini biasa kami lakukan sebanyak dua tahun sekali. Untuk setiap tahunnya ada dua desa yang menjadi sasarannya serta selalu bergantian,” terang perempuan kelahiran Surabaya itu.

Belanja Rutin Masih Dominasi RAPBD Jawa Timur

Written by Tubagus Diday/dir. Posted in Metropolitan


SURABAYA  – Program kerja Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) dilingkungan Pemerintah Provinsi yang dijabarkan dalam Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) ternyata tidak pro rakyat bahkan masih tidak sesuai harapan publik. Selain anggarannya lebih banyak untuk belanja rutin seperti belanja gaji dan belanja pegawai, program kerja untuk kemasyarakatan tidak substantif menyentuh pada peningkatan ekonomi masyarakat Jawa Timur.

Contohnya, di mitra kerja Komisi B DPRD Jawa Timur yang membidangi masalah perekonomian, total anggaran untuk seluruh SKPD mitra kerjanya mencapai Rp1,2 Triiun. Rendahnya alokasi anggaran ini juga dikritisi oleh komisi B DPRD Jatim. Rendahnya serapan anggaran itu disesalkan Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Muhammad Ka’bil Mubarrak,

"Saya menilai ada inkonsistensi antara Rancangan Kegiatan Pembangunan Daerah  (RKPD) dengan RPJMD Jatim khususnya menyangkut perekonomian karena alokasi anggarannya masih cukup minim yakni tidak lebih dari 1,3 persen dari total APBD Jatim senilai Rp21 Trilun,"tutur politisi muda PKB itu, Rabu (29/10/2014).

Anggota Dewan asal daerah pemilihan Surabaya dan Sidoarjo itu mengungkapkan, anggaran untuk Dinas Pertanian dialokasikan hanya Rp288 miliar, Dinas Perikanan dan Kelautan Rp256 miliar, Dinas Perkebunan Rp135 miliar dan Dinas Peternakan sebesar Rp165 miliar. Padahal idealnya untuk anggaran Dinas Pertanian minimal Rp.500 miliar sebagai bentuk kesungguhan Pemprov Jatim dalam mempertahankan dan menopang lumbung pangan nasional.

"Kami juga mendorong supaya anggaran di beberapa SKPD yang berhubungan langsung dengan sektor Perekonomian proporsi belanja modal dan jasa dibesarkan minimal 60 persen. Sebab dalam Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) rata-rata masih didominasi belanja langsung berupa gaji pegawai,"beber Ketua Garda Bangsa Jatim itu.

Komisi B Minta RKA Dinas Kehutanan Jatim Diganti

Written by Tubagus Diday/dir. Posted in Metropolitan



SURABAYA-Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) yang dibuat oleh Dinas Kehutanan Jawa Timur mendapat kritik pedas dari anggota Komisi B DPRD Jatim, Muhammad Fawaid.

Politisi muda asal Fraksi Gerindra itu mengkritisi program kerja di dinas kehutanan yang diserahkan ke Komisi B dalam hearing. Menurutnya dalam RAPBD Jatim tahun 2015 ini, dinas kehutanan dialokasikan anggaran sebesar Rp65 Miliyar. Namun tak ada program yang subtansial.

“Program yang disusun oleh dinas kehutanan, program yang tidak substansial dan tidak ada terobosan baru. Programnya tidak jauh berbeda dengan yang tahun 2014,” papar politisi muda dari Fraksi Gerindra itu, Rabu (29/10/2014).

Ditambahkannya program yang ada di dinas kehutanan hanya sosialisasi dan sosialisasi. Program konkrit berupa terobosan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar hutan seperti di daerah Jember dan Lumajang, tidak ada.

"Makanya saya minta Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) Dinas Kehutanan diganti dengan memasukkan program terobosan dan lebih konkrit,” tegas anggota Dewan asal dapil Jember-Lumajang itu.

High Quality Free Joomla Templates by MightyJoomla | Design Inspiration FCT